Pada pekan depan, harga minyak mentah dunia diperkirakan akan melanjutkan tren pelemahan. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya pasokan global dan meredanya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Menurut Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) akan bergerak pada kisaran US$64,70-US$72,10 per barel. Namun, kecenderungan menguji level support di sekitar US$64 per barel masih cukup besar.
Teheran dan Washington telah menunjukkan optimisme terhadap hubungan mereka. Hal ini membuat pasar menanti kelanjutan pembahasan kedua negara terkait Selat Hormuz, termasuk peluang pencabutan sebagian sanksi ekonomi terhadap Iran.
Optimisme bahwa gencatan senjata dapat dipermanenkan dinilai membuka ruang bagi kelancaran arus distribusi minyak. Kondisi tersebut membuat volume pengiriman minyak yang melewati Selat Hormuz meningkat hingga melampaui 103,1 juta barel per hari.
“Meningkatnya distribusi minyak membuat pasokan global semakin melimpah sehingga tekanan terhadap harga minyak masih cukup besar,” kata Ibrahim.
Perlambatan sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat juga menjadi perhatian pasar. Pelemahan aktivitas ekonomi diperkirakan menekan permintaan energi sekaligus memperbesar peluang bank sentral AS mempertahankan kebijakan moneter yang lebih longgar.
Dengan meningkatnya pasokan global dan meredanya tensi geopolitik, harga minyak mentah dunia diperkirakan akan melanjutkan tren pelemahan pada pekan depan. Namun, perlu diingat bahwa kecenderungan harga minyak masih sangat dinamis dan dapat berubah-ubah tergantung pada berbagai faktor.
Sumber referensi: ekonomi.bisnis.com
WhatsApp us